Mamo2
Sabtu, 05 Maret 2016
Sabtu, 27 Februari 2016
REFLEKSI 1: MATA KULIAH MATEMATIKA MODEL
Pertemuan ke-1.
Hari, tanggal : Senin, 22 Februari 2016
Pukul :
09.20 – 11.00 wib.
Tempat :
R. 201B Gedung Lama PPs UNY.
Brigita Wahyu Minarni
15709251089 / PPS UNY 2015 / PM.D
Mata
kuliah Matematika model merupakan kelanjutan dari mata kuliah filsafat ilmu. Matematika
model yang kami pelajari lebih mengarah pada hermenedika daripada
struktur-struktur ide atau struktur-struktur gagasan. Hermenedika adalah
diterjemahkan dan menerjemahkan. Matematika yang kami pelajari merupakan struktur
atau model, sehingga semua matematika punya struktur. Di dalam filsafat, semua
ide atau gagasan juga disebut struktur. Secara umum objek
filsafat ialah sesuatu hal yang ada atau yang mungkin ada, sedangkan metodenya adalah hermenedika. Belajar
filsafat artinya belajar sesuatu yang ‘mungkin ada’ menjadi ‘ada’. Berdasarkan
penjelasan pak Marsigit tersebut, saya dapat membuat kesimpulan yaitu kita
mempelajari Matematika Model (yang mengarah pada hermenedika) setara dengan
kita mempelajari filsafat ilmu melalui metodenya.
Berdasarkan
pertanyaan oleh sdr.
Lokana yaitu dari manakah asal mula benda-benda pikiran terjadi dalam pikiran
manusia? Pertanyaan tersebut sama maknanya
dengan yang ada atau yang mungkin ada ini
berasal dari manakah? Jawabannya yaitu berasal
dari ruang dan waktu. Tiadalah ruang kalau tiada waktu, dan tiada waktu kalau
tiada ruang. Dua hal tersebut selalu berkaitan dan tidak dapat terpisahkan.
Ruang menggambarkan sebagai sesuatu yang ada fan yang mungkin ada, artinya
adalah kita tidak bisa memikirkan segala sesuatu yang belum kita pikirkan.
Waktu terus berjalan (time line),
akibatnya ruang mempunyai sifat yang kontekstual. Ruang yang kontekstual
artinya sesuatu yang ada dan mungkin ada pada waktu yang berjalan. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pikiran manusia terbentuk dari dua hal yaitu
logikanya dan pengalamannya yang akan terus menerus secara bersama-sama
menghasilkan pemahaman yang ada dan yang mungkin ada.
Berdasarkan
pertanyaan sdr.
Tika yaitu seberapa besar filsafat mempengaruhi cara pikir seseorang? Jawabanya
ialah filsafat merupakan diri kita sendiri. Filsafat merupakan olah pikir yang
reflektif (cerminan). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa filsafat berpengaruh besar terhadap cara berfikir
seseorang.
Pertanyaan yang
terakhir oleh sdr.Abdillah
yaitu bahwa bagaimana
hubungan antara Agama, Tuhan, dan Filsafat? Hal tersebut bergantung pada
orangnya. Karena batasan pikiran ialah hati. Pikiran identik dengan ‘dunia’ sedangkan hati identik dengan ‘spiritual’. Hal
tersebut bergantung pada hati masing-masing orang. Sebagai umat manusia, kita
harus sangat mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Misalnya, kita
diberikan nikmat dapat mendengarkan walaupun pendengaran kita terbatas.
Bagaimana jika kita dapat mendengarkan segara sesuatu secara bersamaan dari
berbagai suara yang kita dengar, hal tersebut
justru akan mengganggu dan membuat kita tidak mampu konsentrasi serta
memahami apa yang kita dengarkan. Dengan
demikian, keterbatasan dapat dilihat sekaligus sebagai kelebihan, karena segala keterbatasan
yang kita pikirkan sebenarnya memiliki manfaat yang sudah sesuai porsinya.
Langganan:
Postingan (Atom)